Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Mohammed al-Farah, anggota Biro Politik Pemerintah Yaman, menulis dalam unggahannya di media sosial: “Ketika Arab Saudi menandatangani sebuah perjanjian dengan Iran, apakah persoalan ‘Majusi’, ‘Rafidhah’, dan ‘Sahabat Nabi’ akan dicantumkan dalam pasal-pasal perjanjian tersebut? Ataukah perundingan hanya akan terbatas pada jaminan bahwa Iran tidak akan menyerang fasilitas minyak Arab Saudi apabila perang antara Iran dan Amerika Serikat kembali pecah?
Begitulah Arab Saudi. Mereka mengangkat persoalan akidah, kesucian agama, dan isu-isu mendasar umat beriman. Mereka meneriakkan slogan-slogan pembelaan terhadap Islam dan menghasut masyarakat yang mudah percaya untuk berperang serta mengorbankan nyawa mereka atas nama persoalan-persoalan tersebut.
Namun, ketika tiba waktunya untuk mencapai kesepakatan, seluruh slogan itu menghilang, sementara kepentingan minyak dan keamanan ditempatkan di atas segala hal lainnya.”
Komentar Anda